Jumat, 21 Oktober 2022

 

Koneksi antar materi

Modul 3.1.a.8

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARAN

 

Sebagai seorang pemimpin pembelajaran, pasti sering dihadapkan dalam situasi di mana diharuskan mengambil suatu keputusan. Namun, seberapa sering keputusan tersebut melibatkan kepentingan dari masing-masing pihak yang sama-sama benar, tapi saling bertentangan satu dengan yang lain. Bagaimana menghadapi situasi seperti ini? Pemikiran-pemikiran seperti apa yang melandasi dalam pengambilan keputusan? Kemudian, setelah mengambil keputusan tersebut, pernahkah kita menjadi ragu-ragu dan menanyakan diri sendiri apakah keputusan yang diambil telah tepat, ada perasaan tidak nyaman dalam?, atau timbul pemikiran mengganjal seperti, ‘Apakah ini sesuai peraturan?’ atau ‘Bagaimana panutan saya akan berlaku dalam hal seperti ini?’

Ki Hajar Dewantara dalam filosofi pemikirannya telah mengajarkan bagaimana seharusnya pendidikan dan bagaimana seharusnya seorang pendidik. Pendidikan itu menuntun,  bukan menuntut, karena setiap anak telah memiliki garis kodratnya meski samar-samar dan tugas pendidik untuk menebalkan garis kodrat itu, secara seimbang antara cipta, karsa dan karyanya agar tumbuh perpaduan tiga unsur tersebut, yaitu budi pekerti. Pendidikan seharusnynya menghamba pada siswa, artinya pembelajaran harus berpihak pada siswa,  siswa itu subyek bukan obyek, pendidik hanyalah fasilitator (bukan instruktur), yang mampu mengasuh dan mengasah anak didiknya dengan asih.  Pendidik/guru adalah pamong bagi murid-muridnya dengan berpegang pada trilogi “Ing Ngarsa Sung Tuladha Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.Bahwa di depan pendidik haruslah dapat menjadi contoh bagi murid-muridnya, di antara murid-muridnya harus dapat menumbuhkan semangat, dan memberi dorongan dari belakang untuk murid-muridnya.

Salah satu peran guru  adalah guru sebagai seorang pemimpin pembelajaran. Sebagai seorang pemimpin, seringkali guru dihadapkan pada permasalahan-permasalahan rumit yang menuntut pengambilan keputusan yang tepat dan efektif. Berkaitan dengan pengambilan keputusan ini pun, guru harus dapat mengambil keputusan efektif  dengan tetap mengedankan prinsip bahwa setiap anak adalah unik, mereka adalah anak-anak yang harus diperlakukan dengan cinta kasih sehingga keputusan yang diambil tetap berpihak pada murid

Di dalam diri setiap manusia pasti telah tertanam nilai-nilai yang ia yakini. Demikian pula dalam diri seorang guru, pasti telah memiliki khasanah nilai-nilai yang diyakini kebenarannya.  Namun dalam perjalanan menjalankan tugasnya, seorang guru juga dihadapkan pada pertentangan ninai benar lawan salah atau bujukan moral dan pertentangan nilai-nilai yang sama-sama mengandung kebenaran atau dilema etika. Dalam kasus seperti ini, nilai-nilai yang telah tertanam itu pasti akan mempengaruhi pengambilan keputusan yang diambil, sehingga mungkin saja keputusan yang diambil akan bersifat subyektif. Oleh karena itulah, seorang guru harus mampu menyelaraskan nilai-nilai yang ia yakini dengan nilai nilai kebajikan yang universal. Dengan demikian pengambilan keputusannya tetap berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan universal, bukan hanya pada nilai-nilai yang ia yakini saja.

Proses pengambilan keputusan berkaitan juga dengan coaching. Di dalam coaching, coach menuntun coachee untuk dapat menemukan jalan keluar dari permasalahannya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan efektif yang menggali potensi atau kekuatan coachee, sehingga pada akhirnya coachee dapat mengambil keputusan sendiri terkait apa yang akan ia lakukan untuk mengatasi permasalahannya. Prinsip-prinsip pengambilan keputusan, terutama 9 langkah pengambilan keputusan dapat diterapkan dalam coaching, karena di dalam 9 langkah pemgambilan keputusan antara lain terdapat langkah dimana kita harus engenali nilai-nilai yang bertentangan, menganalisis pihak-pihak yang terlibat, fakta-fakta yang relevan, dan opsi-opsi yang dapat diambil sebagai keputusan.  Hal ini sejalan dengan Teknik TIRTA di dalam coaching

TIRTA merupakan model coaching yang dikembangkan dengan semangat merdeka belajar. Model TIRTA menuntut guru untuk memiliki keterampilan coaching. Hal ini penting mengingat tujuan coaching, yaitu untuk melejitkan potensi murid agar menjadi lebih merdeka. TIRTA adalah satu model coaching yang diperkenalkan dalam Program Pendidikan Guru Penggerak saat ini. TIRTA dikembangkan dari Model GROW. GROW adalah akronim dari Goal, Reality, Options dan Will.

Goal (Tujuan): coach perlu mengetahui apa tujuan yang hendak dicapai coachee dari sesi coaching ini,

Reality (Hal-hal yang nyata): proses menggali semua hal yang terjadi pada diri coachee,

Options (Pilihan): coach membantu coachee dalam memilah dan memilih hasil pemikiran selama sesi yang nantinya akan dijadikan sebuah rancangan aksi.

Will (Keinginan untuk maju): komitmen coachee dalam membuat sebuah rencana aksi dan menjalankannya.TIRTA akronim dari :

: Tujuan

: Identifikasi

: Rencana aksi

TA: Tanggung jawab

Di dalam pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, kompetensi sosial dan emosional  guru juga sangat dibutuhkan. Di antara kompetensi sosial emosional adalah kesadaran diri, pengelolaan diri_ mengelola emosi dan fokus pada tujuan, kesadaran sosial_empati, keterampilan berelasi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Jika dalam pengambilan keputusan, guru menerapkan kompetensi sosial emosionalnya, maka niscaya keputusan yang ia ambil akan  merupakan keputusan yang tepat. 

Pengambilan keputusan yang tepat tekait kasus dilema etika yang telah dilakukan melalui 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan seharusnya akan menghasilkan keputusan yang efektif, karena telah melalui proses yang runtut dan terarah dalam mengambil dan menguji keputusan. Dengan demikian keputusan yang diambil akan mampu mengakomodasi atau memuaskan sebagian besar pihak-pihak yang terlibat.  Hal inii tentu saja akan berdampak positif pada semua pihak dan mendukung terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman

Secara pribadi, kesulitan yang saya hadapi dalam menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika yang berkaitan dengan murid adalah masih kurangnya pemahaman tentang  perubahan paradigma di dalam pendidikan, terutama berkaitan dengan penegakan disiplin atau penerapan budaya positif di sekolah. Di antara rekan-rekan sejawat masih terdapat perbedaan sudut pandang tentang cara penegakan disiplin di sekolah, karena sudah merupakan budaya yang sudah diterapkan sejak lama.   Di samping juga masih ada kekhawatiran dalam diri saya mengenai keputusan yang saya ambil, apakah sudah benar-benar keputusan yang tepat, yang tidak “melukai” pihak lain dan bermanfaat bagi orang banyak.

Pengambilan keputusan yang  diambil ini akan mempengaruhi  pengajaran yang dilakukan sehingga akan memerdekakan murid, karena keputusan yang diambil merupakan keputusan yang berpihak pada murid. Misalnya pengambilan keputusan guru untuk melakukan proses pembelajaran yang menuntun bukan menuntut, dan memberikan kesempatan bagi murid untuk dapat mengekspresikan pemahamannya dengan berbagai cara sesuai dengan minat murid. Dengan menerapkan hal ini berarti guru telah memberikan kemerdekaan belajar bagi murid dan kemerdekaan untuk memutuskan hal baik yang akan ia presentasikan untuk menunjukkan pemahamannya sebagai hasil belajar yang telah ia lalui.

Ketika guru sebagai pemimpin pembelajaran melakukan pengambilan keputusan untuk melakukan pembelajaran yang  berpihak pada murid, dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, memasukkan keterampilan sosial emosional dan menanamkan budaya positif, maka diharapkan murid-muridnya akan belajar dengan senang dan nyaman sehingga akan menumbuhkan suatu komunitas “wellbeing”. Pada akhirnya nanti murid-murid akan mencapai Profil Pelajar Pancasila yang menjadi muara pendidikan di Indonesia. Berbekal hal tersebut maka di masa depan, mereka akan tumbuh menjadi sosok yang mampu mengambil estafet kepemimpinan negeri ini. Sebaliknya, ketika seorang guru mengambil keputusan yang salah atau kurang  bijaksana yang “melukai” murid, maka bisa jadi berdampak buruk bagi masa depan murid. Keputusan yang salah bisa membuat murid merasa trauma atau rendah diri sehingga tidak mau lagi untuk mengembangkan diri dan potensinya. Oleh karena itulah, bagi seorang guru keputusan tepat, yang berpihak kepada murid menjadi sangat penting. Sebelum memutuskannya, seharusnyalah keputusan itu telah  melalui proses panjang dengan berbagai pertimbangan.

Pada akhirnya, karena dalam menjalankan tugasnya guru pasti dihadapkan pada situasi di mana ia harus mengambil keputusan, maka Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran merupakan suatu hal yang harus difahami dan dikuasai oleh guru. Dengan kata lain, sebagai seorang pemimpin pembelajaran, guru harus dapat mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai kasus. Untuk dapat melakukannya, guru harus memahami berbagai hal yang berkaitan dengan hal tersebut. Di antaranya adalah  filosofi pendidikan, keberpihakan pada murid, kesadaran tentang keunikan dan keanekaragaman murid, kompetensi sosial emosional, paradigma dalam dilema etika, prinsip-prinsip berpikir untuk menyelesaikan dilema etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Dalam melaksanakan proses pembelajaran, guru harus  memahami kebutuhan belajar murid. Inilah pentingnya pembelajaran berdiferensiasi. Guru harus mampu mengelola kompetensi sosial dan emosional yang dimiliki dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran, sehingga keputusan yang diambil merupakan keputusan yang diambil dengan kesadaran penuh, dengan mempertimbangkan relasi, empati dan tanggung jawab. Bukan keputusan emosional. Ketrampilan coaching juga dibutuhkan, karena  proses ini dapat digunakan untuk membantu murid mengambil keputusan yang bertanggung jawab, disamping dapat pula diterapkan pada rekan sejawat. Jadi materi yang telah dipelajari dalam Pendidikan Guru Penggerak ini, dari modul 1 sampai modul 3 merupakan hal yang berkaitan erat satu dengan yang lainnya, sehingga sudah seharusnya dikuasai oleh terutama calon guru penggerak, untuk dapat mewujudkan salah satu perannya, yaitu menjadi pemimpin pembelajaran.

Kamis, 25 Agustus 2022

Aksi Nyata Modul 1.4 - BUDAYA POSITIF

             Sebagai Calon Guru Penggerak  kami berfikiran Budaya positif bukanlah satu-satunya materi yang perlu diterapkan dalam pendidikan di sekolah. Kita perlu juga mengingat dan mengaitkan materi-materi yang sudah kita pelajari sebelumnya agar penerapan di ekosistem belajar. Hubungan guru dan murid adalah factor penting dalam membangun budaya positif disekolah. Apakah budaya positif di sekolah berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik?. Bagaimana penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari?. Bagian mana dari modul sebelumnya yang berkaitan dan mendukung budaya positif?. Bagaimana peran guru penggerak menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah?. Bagaimana guru penggerak bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah?.

Berdasarkan filosofi ki hajar dewantara Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya. Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Maka, Ki Hadjar menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa pendidikan. Artinya Pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya. Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti mendidik bangsa.

Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu, kemerdekaan menjadi isu kritis dalam Pendidikan karena menyangkut usaha untuk memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME. kebhinekaan global, bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri. Kita sebagai pendidik harus mengetahui posisi control guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh seorang guru terutama calon guru penggerak.

Selama ini hukuman merupakan bentuk pembelajaran disiplin bagi murid bagi seorang guru, padahal hukuman menmpunyai arti berbeda. Hukuman adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku Secara umum hukuman dalam hukum adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan yang berpengaruh untuk karakter peserta didik dan tidak bagus untuk psikologis anak. Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi orang dewasa (termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda, dan lainnya).

Dalam menciptakan budaya positif di sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dari seluruh kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain: Kepala Sekolah, rekan guru, murid dan orang tua serta lembaga kemasyarakatan lainnya yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif.

Disiplin positif bertujuan untuk bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku yang baik. Hal ini melibatkan memberikan siswa-siswi pedoman yang jelas untuk perilaku apa yang dapat diterima dan kemudian mendukung mereka ketika mereka belajar untuk mematuhi pedoman ini. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan partisipasi anak dan penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.

Upaya untuk membangun budaya positif disekolah guru harus bekerja sama dengan kepala sekolah serta orang tua yaitu dengan sebagai guru harus memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik, Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif. Kepala sekolah harus memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam menerapkan disiplin positif di sekolah serta Mendukung dan mengawasi keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif. Dan orang tua menciptakan suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif yang konsisten dan berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif. Oleh karena itu diperlukan guru harus sebagai manager dalam menerapkan budaya positif disekolah. Budaya positif dikelas bisa dikembangkan dengan membuat kesepakatan kelas dimana langkah-langkahnya sudah disebutkan di Demonstrasi Kontekstual – Menerapkan Budaya Positif Rencana pengembangan diri. 

Budaya positif merupakan bagian dari visi guru penggerak. Budaya positif harus dikembangkan sehingga mampu untuk mewujudkan visi guru penggerak yang nantinya juga akan lebih luas lagi menjadi visi sekolah. Yaitu “Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang berprofil pelajar Pancasila”. Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan adanya kolaborasi kekuatan positif yang ada baik dari luar maupun dari dalam sekolah (pemetaan kekuatan). Dalam hal ini dapat dilakukan melalui suatu pendekatan yaitu pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali impian, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif adalah suatu pendekatan berbasis kekuatan positif.

Dari sinilah, peran guru penggerak sangat penting dalam menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah. Antara lain: 

1.     Guru penggerak harus mampu menjadi teladan

2.     Menjalin kolaborasi dengan rekan guru lain dan seluruh warga sekolah dalam melaksanakan budaya positif

3.     Menggerakkan komunitas praktisi yang ada di sekolah

4.     Menjadi coach bagi guru lain serta mampu menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang berpihak pada murid

Guru penggerak harus bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi di sekolah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :

1.     Memulai dari diri sendiri dalam menumbuhkan budaya positif di kelas dan menajdi teladan bagi seluruh warga sekolah

2.     Mensosialisasikan dan berkolaborasi dengan rekan guru serta Kepala Sekolah

3.     Penuh kesabaran, keuletan, dan positif thinking terhadap penolakan ide dan pelanggaran 

4.     Terus melakukan refleksi dan perbaikan


Dalam mewujudkan budaya positif guru sangat berperan dalam membuat kesepakatan kelas dan senantiasa menegaskan, tidak melakukan penghukuman dan tidak ada pemberian hadiah sehingga menjadi pembiasaan. Dengan demikian niscaya budaya positih akan tercapai.

Sabtu, 09 Februari 2013

PDSS Program yang baik Sarana dan Prasarana tidak mendukung

Tahun 2013 merupakan tahun dimana IT mulai berkembang dengan baik. Dunia pendidikan telah banyak menggunakan sebagai sarana informasi bahkan telah menjadi hal yang penting dalam informasi dan akurasi data tapi sayang ..... program-program IT yang dikembangkan untuk menunjang kemajuan pendidikan kurang di dukung oleh pemenuhan sarana dan prasarana pendukung untuk kelancaran pengoperasian IT. contohnya : pertengahan tahun 2012 pemerintah melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan program aplikasi sekolah yang diberi nama "PAS" khusus untuk SMA/SMK yang berfungsi sebagai aplikasi dimana sekolah dapat menyingkronkan data sekolah dengan data dikmen dibawah kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sehingga Dinas Pendidikan dapat dengan mudah mengakses data individu sekolah guna pemberian bantuan dan hal yang yang diperlukan sekolah guna kemajuan pendidikan. namun sayang ..... program ini tidak didukung dengan sarana penunjang seperti misalnya sekolah yang berada jauh dari jangkauan akses internet sangat sulit melaksanakan program ini, ditambah lagi dengan operator yang masih belum memahami program tersebut serta sekolah yang masih belum memiliki sarana IT seperti komputer dengan kapasitas yang memadai untuk Online. contoh yang kedua, yaitu adanya program online untuk pendaftaran siswa sekolah yang akan lulus untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dimana sekolah harus mendaftarkan siswanya pada program tersebut yang dikenal dengan nama keren "PDSS". tetapi sayang.....program yang sangat bagus ini tidak ditunjang dengan sarana yang mendukung seperti penyediaan layanan akses yang memungkinkan semua sekolah dapat mengakses situs dengan baik. memang dari penyelenggara telah mensosialisasikan dengan baik serta akan memberi dukungan agar semua sekolah dapat menjalankan dan mendaftar dengan baik sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan tetapi kenyataannya sampai pada limit yang ditentukan, masih banyak sekolah yang belum menyelesaikan pendaftaran. timbul suatu pemikiran yang negatif, siapa yang kurang bener kerjanya ???? sebenarnya tidak ada yang salah, karena semua yang kita anggap sudah benar belum tentu dapat dengan mudah dilaksanakan. yang terpenting adalah mencari solusi yang baik guna mencapai hasil yang terbaik. Dengan permasalahan yang timbul ini, diharapkan kedepan dapat menjadi pengalaman kita semua, bahwa sebenarnya untuk mencapai sesuai yang baik dan benar tidak lah mudah seperti apa yang kita pikirkan, rencanakan, maupun melaksanakan.

Jumat, 21 Oktober 2011

SERTIFIKASI GURU

Siapa bilang sertifikasi hanya mengecar gaji.....??????

Sertifikasi yang saya ikuti selama lebih kurang 10 hari, telah memberikan saya banyak manfaat dan menambah ilmu pengetahuan saya mengenai berbagai hal, terutama dalam menyusun program pengajaran dan mengajar itu sendiri.


Sebanyak 57 orang guru Matematika SMA dn SMK dari berbagi Kabupaten dan Kota di Propinsi Jambi, mengikuti sertifikasi guru tahun 2011 di kota jambi yang diselenggarakan LPTK Rayon 108 Universitas Jambi dari tanggal 11 s/d 20 Oktober 2001.
Semoga semuanya dinyatakan lulus).Rata-rata mereka menyatakan bahwa dengan mengikuti diklat sertifikasi, pengetahuan yang kurang selama ini telah bertambah dengan pelatihan dan workshop. Banyak tekhnik dan prosedur sebagai guru yang dilaksanakan dalam pengajaran yang mereka praktekkan, dengan harapan mereka dapat meningkatkan kualitas pengajaran yang nantinya dapat meningkatkan pengetahuan peserta didik khususnya, kualitas pendidikan umumnya.


Senada dengan hal diatas, program sertifikasi guru yang telah diluncurkan pemerintah memang salah satu tujuannya untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memberikan penghargaan dan apresiasi kepada guru guna meningkatkan profesionalisasinya di bidangnya, yang akhirnya nanti berujung terciptanya dunia pendidikan indonesia yang seharusnya. Di dalam Undang-undang Dasar 1945 telah dinyatakan bahwa pendidikan sebagai hak warga negara yang tertuang dalam pasal-pasal dan peraturan-peraturan perundang-undangan dan pemerintah, ditambah lagi pendanaan untuk pendidikan yang diatur dalam undang-undang sebagai jaminan agar penyelenggaran pendidikan di Indonesia berjalan tanpa hambatan.

Akhirnya...kepada semua guru, tidak hanya guru yang mengajar di pendidikan formal tetapi juga yang non formal dan lainya...nahwa sesungguhnya mari kita melaksanakan apa yang dapat kita perbuat dengan tidak hanya mengharapkan apa yang seharusnya diberikan kepada kita, tetapi lebih kepada kewajiban kita sebagai warga negara yang berdaulat dan merdeka.

Ciptakan pendidikan yang berkualitas dengan outpun yang siap pakai...........
tetapi bagaimana dengan Ujian Nasional..........???????

Sabtu, 19 Maret 2011

Rumah Matematika: Belajar

Rumah Matematika: Belajar: "Belajar adalah kata yang tidak kenal usia, tempat dan masa. untuk mereka yang sadar, dimanapun dan kapanpun tetap mengalamimya,sehingga den..."