Sebagai Calon Guru Penggerak kami berfikiran Budaya positif bukanlah satu-satunya materi yang perlu diterapkan dalam pendidikan di sekolah. Kita perlu juga mengingat dan mengaitkan materi-materi yang sudah kita pelajari sebelumnya agar penerapan di ekosistem belajar. Hubungan guru dan murid adalah factor penting dalam membangun budaya positif disekolah. Apakah budaya positif di sekolah berdiri sendiri dalam menciptakan budaya ajar yang baik?. Bagaimana penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari?. Bagian mana dari modul sebelumnya yang berkaitan dan mendukung budaya positif?. Bagaimana peran guru penggerak menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun budaya positif di sekolah?. Bagaimana guru penggerak bisa menumbuhkan budaya positif di kelas menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah?.
Berdasarkan filosofi ki hajar
dewantara Tidak ada keabadian dalam kehidupan manusia dan lingkungannya.
Pengaruh alam dan jaman adalah penguasa kodrat yang tidak bisa dihindari oleh
manusia. Anak-anak adalah sebuah kehidupan yang akan tumbuh menurut kodratnya
sendiri, yaitu kekuatan hidup lahir dan hidup batin mereka. Maka, Ki Hadjar
menekankan arti penting memperhatikan kodrat alam dalam diri anak semasa
pendidikan. Artinya Pendidikan itu sudah setua usia manusia ketika manusia
mulai bertahan hidup dan mempertahankan hidup dengan membangun peradabannya.
Mendidik anak itu sama dengan mendidik masyarakat karena anak itu bagian dari
masyarakat. Mendidik anak berarti mempersiapkan masa depan anak untuk
berkehidupan lebih baik, demikian pula dengan mendidik masyarakat berarti
mendidik bangsa.
Menurut Ki Hadjar, Pendidikan adalah
pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap
dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman
atau masyarakat. Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia
sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha
manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung
kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu,
kemerdekaan menjadi isu kritis dalam Pendidikan karena menyangkut usaha untuk
memerdekakan hidup lahir dan hidup batin manusia agar manusia lebih menyadari
kewajiban dan haknya sebagai bagian dari masyarakat sehingga tidak tergantung
kepada orang lain dan bisa bersandar atas kekuatan sendiri. Oleh karena itu
untuk terwujudnya tujuan pendidikan tersebut diperlukan profil pelajar
Pancasila yaitu beriman dan bertaqwa kepada tuhan YME. kebhinekaan global,
bergotong royong, kratif, bernalar positif, dan mandiri. Kita sebagai pendidik
harus mengetahui posisi control guru yaitu mandiri, reflektif, kolaboratif,
inovatif, dan berpihak kepada murid semua aspek tersebut harus dimiliki oleh
seorang guru terutama calon guru penggerak.
Selama ini hukuman merupakan bentuk
pembelajaran disiplin bagi murid bagi seorang guru, padahal hukuman menmpunyai
arti berbeda. Hukuman adalah sebuah cara untuk mengarahkan sebuah tingkah laku
agar sesuai dengan tingkah laku yang berlaku Secara umum hukuman dalam hukum
adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang
dilakukan yang berpengaruh untuk karakter peserta didik dan tidak bagus untuk
psikologis anak. Disiplin Positif adalah sebuah pendekatan yang dirancang untuk
mengembangkan murid untuk menjadi pribadi dan anggota dari komunitas yang
bertanggung jawab, penuh hormat, dan kritis. Disiplin positif mengajarkan
keterampilan sosial dan kehidupan yang penting dengan cara yang sangat
menghormati dan membesarkan hati, tidak hanya bagi murid tetapi juga bagi
orang dewasa (termasuk orangtua, guru, penyedia penitipan anak, pekerja muda,
dan lainnya).
Dalam menciptakan budaya positif di
sekolah tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan adanya kolaborasi dari seluruh
kekuatan yang ada baik dari dalam maupun dari luar sekolah. Antara lain: Kepala
Sekolah, rekan guru, murid dan orang tua serta lembaga kemasyarakatan lainnya
yang dapat mendukung pelaksanaan budaya positif.
Disiplin positif bertujuan untuk
bekerja sama dengan siswa dan tidak menentang mereka. Penekanannya adalah
membangun kekuatan peserta didik daripada mengkritik kelemahan mereka dan
menggunakan penguatan positif (positive reinforcement) untuk mempromosikan perilaku
yang baik. Hal ini melibatkan memberikan siswa-siswi pedoman yang jelas untuk
perilaku apa yang dapat diterima dan kemudian mendukung mereka ketika mereka
belajar untuk mematuhi pedoman ini. Pendekatan ini secara aktif mempromosikan
partisipasi anak dan penyelesaian masalah dan di saat yang bersamaan juga
mendorong orang dewasa, dalam hal ini yaitu pendidik, untuk menjadi panutan
positif bagi anak-anak muda dalam perjalanan tumbuh kembang mereka.
Upaya untuk membangun budaya positif
disekolah guru harus bekerja sama dengan kepala sekolah serta orang tua yaitu
dengan sebagai guru harus memiliki peran kunci dalam pengembangan disiplin
positif dengan menciptakan ruang kelas yang berpusat pada peserta didik,
Melibatkan dan bekerjasama dengan orangtua dalam penerapan disiplin positif.
Kepala sekolah harus memastikan para guru dan staf mendapatkan dukungan dalam
menerapkan disiplin positif di sekolah serta Mendukung dan mengawasi
keterlibatan orangtua dalam menerapkan disiplin positif. Dan orang tua menciptakan
suasana rumah yang aman dan nyaman sehingga dapat menerapkan disiplin positif
yang konsisten dan berpartisipasi dalam pertemuan sekolah dan memiliki hubungan
baik dengan guru untuk mendukung pendekatan disiplin positif. Oleh karena itu diperlukan
guru harus sebagai manager dalam menerapkan budaya positif disekolah. Budaya
positif dikelas bisa dikembangkan dengan membuat kesepakatan kelas dimana
langkah-langkahnya sudah disebutkan di Demonstrasi Kontekstual – Menerapkan
Budaya Positif Rencana pengembangan diri.
Budaya positif merupakan bagian dari
visi guru penggerak. Budaya positif harus dikembangkan sehingga mampu untuk
mewujudkan visi guru penggerak yang nantinya juga akan lebih luas lagi menjadi
visi sekolah. Yaitu “Terwujudnya merdeka belajar dan murid yang berprofil
pelajar Pancasila”. Untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan adanya kolaborasi
kekuatan positif yang ada baik dari luar maupun dari dalam sekolah (pemetaan
kekuatan). Dalam hal ini dapat dilakukan melalui suatu pendekatan yaitu
pendekatan Inkuiri Apresiatif dengan tahapan BAGJA (Buat pertanyaan, Ambil
pelajaran, Gali impian, Jabarkan rencana, Atur eksekusi). Inkuiri Apresiatif
adalah suatu pendekatan berbasis kekuatan positif.
Dari sinilah, peran guru penggerak
sangat penting dalam menularkan kebiasaan baik kepada guru lain dalam membangun
budaya positif di sekolah. Antara lain:
1.
Guru penggerak harus mampu menjadi
teladan
2.
Menjalin kolaborasi dengan rekan guru
lain dan seluruh warga sekolah dalam melaksanakan budaya positif
3.
Menggerakkan komunitas praktisi yang
ada di sekolah
4.
Menjadi coach bagi
guru lain serta mampu menjadi pemimpin dalam pembelajaran yang berpihak pada
murid
Guru penggerak harus bisa menumbuhkan
budaya positif di kelas menjadi budaya positif di sekolah dan menjadi visi di
sekolah. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara :
1.
Memulai dari diri sendiri dalam
menumbuhkan budaya positif di kelas dan menajdi teladan bagi seluruh warga
sekolah
2.
Mensosialisasikan dan berkolaborasi
dengan rekan guru serta Kepala Sekolah
3.
Penuh kesabaran, keuletan, dan
positif thinking terhadap penolakan ide dan pelanggaran
4.
Terus melakukan refleksi dan
perbaikan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar